Jumat, 11 Oktober 2013

MAKALAH ULUMUL QURAN

Makalah ulumul quran
QIRAATUL QURAN WA FAWATIHUL AS SUWARI
DI
S
U
S
U
N
OLEH :
Kelompok 9

KALKAUSAR
 REZAL FAJMI MUHAMMAD FAKRI





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI AR-RANIRY
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PBA, UNIT 4
DARUSSALAM 
2013 M/1433 H



Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin,segala  puji  dan  syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Qiraatul Quran wa Fawatihul As Suwari”.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah  Ulumul Quran.  Adapun  isi  dari  makalah  yaitu menjelaskan tentang Qiraatul Quran dan Fawatihul As Suwari.
Kami  berterima  kasih  kepada Ustad Rahmadon selaku  dosen  mata  kuliah  Ulumul Quran yang  telah memberikan arahan serta bimbingan, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan makalah ini.Seperti pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak”. kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Hal ini semata-mata karena keterbatasan kemampuan kami sendiri. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang positif dan membangun dari semua pihak agar makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.


Penyusun


Banda Aceh,11 Okt. 13

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I BAB PENDAHULUAN
A.Latar Belakang........................................................................................................................4
B.Rumusan Masalah...................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
I.Qiraatul Quran.........................................................................................................................5
A. pengertian Qiraatul Quran.....................................................................................................5
B. latar belakang timbulnya perbedaan qiraat............................................................................5
C. macam-macam qiraat quran...................................................................................................6
                     a. qiraah sab’ah.....................................................................................................6
                     b. qiraah syazzat...................................................................................................8
                     c. qiraah asyrah.....................................................................................................9
                     d. qiraah arba’ah asyrah........................................................................................9
D. kegunaan mempelajari Qiraat................................................................................................9
II.Fawatih As Suwari................................................................................................................10
A.pengertian.............................................................................................................................10
B.macam-macam bentuk fawatih as suwar..............................................................................11
C. pendapat ulama tentang fawatih as suwar...........................................................................12
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan...........................................................................................................................14
B.Daftar pustaka.......................................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Bangsa Arab merupakan komunitas terbesar dengan berbagai suku didalamnya, Setiap suku memiliki lahjah yang khusus dan berbeda dengan suku-suku lainnya. Di sini, perbedaan-perbedaan al-Qur’an ‘ala sab’ah ahruf dan hadis-hadis lainnya yang sepadan dengannya lahjah itu membawa konsekuensi lahirnya bermacam-macam bacaan (qira’ah) dalam melafalkan al-Qur’an. Lahirnya bermacam-macam qira’ah itu sendiri, tidak dapat dihindarkan lagi. Oleh karena itu, Rasulullah SAW sendiri membenarkan pelafalan al-Qur’an dengan berbagai macam qira’ah.
Begitu juga dengan Fawatih As suwari,dia sendiri memiliki makna pembukaan surat karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.

B.   Rumusan Masalah
Sebagaimana yang tertera pada latar belakang diatas, maka kami ingin membahas sedikit tentang :
a.    Apa pengertian Qira’atul Quran dan fawatih As Suwari ?
b.    Bagaimana pendapat ulama tentang Qiraatul Quran dan fawatih As Suwari ?
c.    Apa saja pembagian Qiraatul Quran ?

                                            



BAB II
PEMBAHASAN
QIRA’AT AL-QUR’AN
A. Pengertian Qira’at al-Qur’an
         Secara bahasa, lafal qira’at ( قراءة ) merupakan bentuk masdar dari ( قرأ ) yang artinya bacaan. Sedangkan menurut istilah, terdapat berbagai pendapat para ulama yang sehubungan dengan pengertian qira’at ini
Dr.Subhi sholeh mendefinisikan Qiraat : “ yaitu ilmu yang membahas tentang tata cara pengucapan kalimat-kalimat al-quran berikut cara pelaksaannya, baik yang disepakati maupun yang terjadi perbedaan, dengan menghubungkan setiap pandangannya menurut versi orang yang memindahkannya”[1]
B.Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at
Mengenai hal ini, terjadi perbedaan pula dari para ulama tentang apa sebenarnya yang menyebabkan perbedaan tersebut. Berikut pendapat para ulama:

1.    Sebagaimana ulama berpendapat bahwa perbedaan Qira’at al-Qur’an disebabkan karena perbedaan qira’at Nabi SAW, artinya dalam menyampaikan dan mengajarkan al-Qur’an, beliau membacakannya dalam berbagai versi qira’at. Contoh: Nabi pernah membaca ayat 76 surat ar-Rahman dengan qira’at yang berbeda. Ayat tersebut berbunyi:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَ عَبْقَرِيٍّ حِسَاٍن
Lafadz ( رَفْرَفٍ ) juga pernah dibaca Nabi dengan lafadz ( رَفَارَفٍ ), demikian pula dengan lafadz ( عَبْقَرِيٍّ ) pernah dibaca ( عَبَاقَرِيٍّ ), sehingga menjadi:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفَارَفٍ خُضْرٍ وَعَبَاقَرِيٍّ حِسَانٍ
2. Pendapat lain mengatakan: Perbedaan pendapat disebabkan adanya taqrir Nabi terhadap berbagai qira’at yang berlaku dikalangan kaum muslimin pada saat itu. Sebagai contoh: ( حَتَّى حِيْنَ ) dibaca ( حَتَّى عِيْنَ ), atau ( تَعْلَمْ ) dibaca ( تِعْلَمْ ).
3. Suatu pendapat mengatakan, perbedaan qira’at disebabkan karena perbedaannya qira’at yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi melalui perantaraan Malaikat jibril.


C.Macam-macam Qira’at
Yang dimaksud dengan macam-macam qira’at disini yaitu ragam qira’at yang dapat diterima sebagai qira’at al-Qur’an. Dan hal ini banyak menyangkut qira’at sab’ah dan qira’at syazzat.
a. Qiraah Sab’ah
Orang arab memiliki beberapa suku, disetiap suku memiliki bahasa atau lahjah masing-masing, mereka berbeda pada pengucapan huruf dan bahasa merekapun berbeda antara satu dengan yang lain nya sehingga muncullah perbedaan dalam pembacaan al-quran atau lebih dikenal dengan qiraah saba’ah.
Ada beberap hadist mutawatir yang membahas tentang diturunkanya al-qur’an dalam tujuh huruf atau tujuh bacaan. Diantaranya:
عن ابن عباس رضي الله عنهما انه قل " قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أقرأني جبريل على حرف فراجعته ، فلم أزل أستزيده ويزيدني حتى انتهى إلى سبعه أحرف" أخرجه البخاري ومسلم وغيرهما

Artinya: “  Dari ibnu Abbas ra berkata “ Rasulullah SAW Bersabda: Aku telah dibacakan(quran) oleh jibril dalam satu huruf kemudian aku mengulangnya,tetapi ia masih menmbahkannya hingga sampai tujuh huruf ” HR Bukhari, Muslim dan selain mereka berdua.
عن ابي بن كعب " أن النبى صلى الله عليه وسلم كان عند اضاه بنى غفار  قال : فأته جبريل فقل : إن الله يأ مرك أن تقرىء أمتك القران على حرف ، فقال: أسأل الله معافته ومغرفته  وأن أمتي لا تطيق ذلك ، ثم اتاه الثانية فقال : إنالله يأمرك أن تقرأ أمتك القران على حرفين ، فقال : أسأل الله معافته ومغرفرته وأن أمتي لا تطيق ذلك ، ثم جاء الثالثة،  فقال : إن الله يأمرك أن تقرأ أمتك القران على الثالثة أحرف، فقال : أسأل الله معافته ومغرفته  وأن أمتي لا تطيق ذلك ، ثم جاء الرابعة فقال : إنالله يأمرك أن تقرأ أمتك القران على سبعة أحرف، فأيما حرف قرأوا عليه فقد أصابوا. (روه مسلم)


Artinya “ Dari ubay bin ka’ab : sesunggungnya rasulullah SAW meninggalkan bani Ghiffar, berkata : jibril mendatanginya ( muhammad) maka berkata : sesungguhnya allah memrintahkanmu untuk membaca kpd ummatmu Quran dalam 1 huruf . maka nabi menjawab : aku memohon kemaafan,dan pengampunan allah, dan sesungguhnya umatku tidak sanggup yang demikian itu. Kemudian jibril datang kali kedua dan berkata : sesungguhnya allah memerintahkan kamu untuk membacakan kepada umatmu al-quran dalam dua huruf, Rasul menjawab: aku memohon kemaafan,dan pengampunan allah, dan sesungguhnya umatku tidak sanggup yang demikian itu, dan jibril datang kali yang ketiga dan berkata sesungguhnya allah memerintahkanmu untuk membacakan untuk umatmu Quran dalam tiga huruf, kemudian nabi menjawab : aku memohon kemaafan,dan pengampunan allah, dan sesungguhnya umatku tidak sanggup yang demikian itu, kemudian jibril datang lagi kali yang ke empat dan berkata sesungguhnya allah memerintahkanmu untuk membacakan kepada umatmu Quran dalam tujuh huruf, maka huruf apa saja yang di bacakan maka meareka benar. ( HR.Muslim )[2]
Para ulama berbeda pendapat pada penafsiran tujuh huruf yang terdapat dalam hadist di atas diantaranya :
1.       Kebanyakn para ulama berpendapat  yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh bahasa dalam satu arti meski bahasa arab berbeda dalam pengungkapan suatu kata, al-quran diturunkan dengan bahasa yang mereka mampu (mengucapkannya) dengan arti yang sama, terapi tidak ada perbedaan apakah terdiri dari satu atau dua . mereka juga berbeda pendapat pada penentuan tujuh bahasa tersebut ada yang menyatakan : bahasa Quraisy, Hudzail, tsaqief, hawazen, kinanah, Tamim dan yaman. Abu hatim as sadistan berkata diturunkan dengan bahasa Quraisy Hudzail, Tamim, Azd, Rabiah, Hawazen, Dan Saad Bin Bakr.
2.       Sebagian lain menyatakan bahwa maksud dari tujuh huruf itu adalah tujuh maksud : seperti perintah, larangan, janji, ancaman, perdebatan, kisah dan perumpamaan atau berupa : Amar dan Nahie, Halal dan Haram, Muhkam dan Mutasyabih, dan perumpamaan. Dari ibnu mas’ud ra berkata : dari nabi saw bersabda: pertama kitab itu di turunkan dari satu pintu dan dari satu huruf,sementara al-quran dari tujuh pintu dengan tujuh huruf :larangan, perintah, halal, haram, muhakkam, mutasyabih dan perumpamaan (HR. Hakim dan Baihaqi)
3.       Beberapa orang menyatakan bahwa tujuh bilangan itu tidak dapat di pahami ( la mafhuma lah). Akan tetapi itu adalah rumus yang dipakai orang arab dalam arti kesempurnaan firman allah. Ini sebagai isyarat bahwa dalam al-quran dalam bahasa maupun susunannya merupakan batas dan bab-bab dalam perkataan arab secara keseluruhan persamaan dengan tingkat kesempurnaan balghahnya, maka lafaz sab’ah dimaksudkan untuk menyatakan keinginan yang menyeluruh dan sempurna dalam satu kata, seperti dinyatakan tujuh pulu dalam puluhan dan tujuh ratus dalam ratusan dan tidak dimaksudkan pada satu arti.[3]

b.    Qira’at Syazzat
       Yaitu qira’at yang sanadnya shahih, sesuai dengan kaidah Bahasa Arab, akan tetapi menyalahi rasm Ustmani. Dengan demikian qira’at ini dapat diterima eksistensinya, akan tetapi para ulama sepakat tidak mengakui kegunaannya, dengan kata lain qira’at ini dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap qira’at yang terkenal diakui kegunaannya.

Beberapa contoh qira’at syazzat:
• Qira’at Aisyah dan Hafsah
• Qira’at Ibn Mas’ud
• Qira’at Ubay Ibn Ka’ab
• Qira’at Sa’ad Ibn Abi Waqash
• Qira’at Ibn Abbas
• Qira’at Jabir

c.    Qiraat Asyrah (qiraat sepuluh)
            Yang dimaksud qiraat sepuluh adalah qiraat tujuh yang telah disebutkan di atas ditambah tiga qiraat sebagai berikut : Abu Ja’far. Nama lengkapnya Yazid bin al-Qa’qa al-Makhzumi al-Madani. Ya’qub (117 – 205 H) lengkapnya Ya’qub bin Ishaq bin Yazid bin Abdullah bin Abu Ishaq al-Hadrani, Khallaf bin Hisyam (w. 229 H)
d.    Qiraat Arba’at Asyarh (qiraat empat belas)
Yang dimaksud qiraat empat belas adalah qiraat sepuluh sebagaimana yang telah disebutkan di atas ditambah dengan empat qiraat lagi, yakni : al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), Muhammad bin Abdurrahman (w. 23 H), Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi and-Nahwi al-Baghdadi (w. 202 H), Abu al-Fajr Muhammad bin Ahmad asy-Syambudz (w. 388 H).[4]


D.Kegunaan Mempelajari Qira’at
Dengan bervariasinya qira’at, maka banyak sekali manfaat atau faedahnya, diantaranya:
1. Menunjukkan betapa terpelihara dan terjaganya kitab Allah dari perubahan dan penyimpangan.
2. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca al-Qur’an
3. Bukti kemukjizatan al-Qur’an dari segi kepadatan makna, karena setiap qira’at menunjukkan sesuatu hukum syara tertentu tanpa perlu pengulangan lafadz.
4. Penjelasan terhadap apa yang mungkin masih global dalam qira’at lain.
5. Memperbesar pahala[5]



II.FAWATIH AS-SUWARI
A.      PENGERTIAN
Al quranul karim merupakan kitab suci  yang keautentikannya di jamin oleh allah, dan ia merupkan kitab yag senantiasa di pelihara hingga hari kiamat.hal itu ditegaskan oleh allah dalam surah 15;9
“sesungguhnya kami yg menurunkan al-quran, dan kamilah yg memeliharanya”

Demikianlah allah menjamin keauntentikannya al-quran , jamimanan nya yg di berikan atas dasar kemahakuasaan dan kemahatauhuan-Nya, serta berkat upaya upaya dilakukan oleh makhluk makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat diatas, setiap muslim percaya bahwa apa yg dibaca dan didengarny a sebagai al-quran tidak berbeda sedikit pun apa yang pernah di baca oleh rasulullah saw, dan yang di dengar serta di baca oleh para sahabat.
Apabila kita membaca alquran yg diturunkan kepada manusia secara global,akan kita dapati bahwa ayat-ayat alquran itu bersifat  muhkam dan ada juga mutasyabihat. boleh kita  mengatakan bahwa semua ayat al-quran adalah muhkam,dan kita pun dapat mengatakan bahwa semua ayat al-quran mutasyabihat. Hal ini berlandaskan kepada surah Hud ayat 1 (untuk muhkam) dan pada surah Az Zumar ayat 23 (untuk mutasyabihat).

Fawatih asuwari adalah kalimat yg dipakai untuk pembukaan surah , merupakan bagian dari ayat mutasyabihat. karna ia bersifat mujmal, mu’awal dan musykil. Di dalam al-quran terdapat huruf huruf awalan dalam pembukaan surah dalam bntuk yang berbeada beda. Hal ini merupakan salah satu ciri kebesaran allah dan kemahtuhaan-Nya , sehingga kita terpanggil untuk mengalih ayat2 tersebut.





B.   Macam2 bentuk fawatih as-swari
Ada lima bntk awalan yg dapt dilhat dalm al-quran yaitu                  
1.    Awalan surah yg terdiri dari satu hruf, ini terdapat pada 3 surah
A.   Surah shad ( QS. 38)
B.   Surah Qaaf (Qs. 50)
C.   Surah al-Qalam (QS.68)
2.    Awalan surah yg terdiri dari 2 huruf, ini terdapat pada 10 surah
a.    Surah al mukmin 40.
b.    Surah Asy Syura (QS. 42)
c.    Surah Az Zukhruf (QS. 43)
d.    Surah Ad Dukhan (QS. 44)
e.    Surah Al Jatsiyah (QS. 45)
f.     Surah Al Ahqaf (QS. 46)
g.    Surah Taha (QS. 20)
h.    Surah An Naml (QS. 27)
i.      Surah Yasiin (QS. 36)
Tujuh dari surah 10 surah diatas dinamakan hawwamim

3.    Awalan surah yg terdiri dari 3 huruf , ini terdapt pada 13 surah :
Enam surah di awali alif lam mim.
a.    Surah Al Baqarah (QS. 2)
b.    Surah Ali Imran (QS. 3)
c.    Surah Al ‘Ankabut (QS 29)
d.    Surah Ar Rum (QS. 30)
e.    Surah Luqman (QS.  31)
f.     Surah As Sajadah (QS. 32)
Lima surah di awali dg alif lam ra
a.    Surah  Yunus (QS.10)
b.    Surah  Hud (QS. 11)
c.    Surah  Yusuf (QS. 12)
d.    Surah Ibrahim (QS. 14)
e.    Surah Al Hijr (QS.15)
Dua surah ayg diawali dengan thna sin  mim
a.    Surah Asysyu’ara (QS. 26)
b.    Surah Al Qashah (QS. 28)
4.    Awalan surah yg terdiri dari 4 huruf, ini terdapat pd 2 t4 yaitu
a.    Surah Al A’raf (QS. 7)
b.    Surah Ar Ra’d (QS. 13)
5.    Awalan surah yg terdira dari 5 huruf , ini hanya trdapat pd surah maryam (QS.19)
C.  pendapat Ulama Tentang Fawatih
Dari keterangan di atas terlihat bahwa fawatih As Swari ( pembuka pembuka surah) ada 29 macam yang terdiri 13 bentuk. Adapun huruf yang paling banyak diigunakan secara berurutan ialah : Alif, Lam, Mim, Ha ( di ringankan ) Ra, Sin, Tha, Shad, Ha (di beratkan). Ya, Sin, Qaf, Nun. Huruf awalan yang tidak disebut semuanya berjumlah 14 itu berarti separuh jumlah huruf hijaiyah (alfabet)
Alfatih As suwari ini menjadi bukti kepada bangsa arab bahwa al-quran diturunkan dengan di pergunakan huruf huruf yang mereka kenal. Ini merupakan teguran keras bagi mereka dan sekaligus membuktikan ketidak mampuan mereka membuat semisal al-quran.
Kajian tentang fawatih asuwari telah di kembangkan oleh para ahli tafsir terdahulu semisal Zamakhsyari. Kemudian diikuti Baidhawi. Begitu juga Ibnu taimiyyah dan muridnya yang bernama Al-Hafidz Al-mizi.
Mengklasifikasikan huruf huruf yang terdapat dalam fawatih as-suwari maka kita akan dapati :
a.     Golongan huruf – huruf ‘alaq (yang suaranya yang keluar dari tenggorokan)
b.    Golongan huruf huruf mahmusah ( yang suaranya seperti bisikan)
c.    Golongan huru - huruf  mahjurah ( yang suaranya di keraskan ) ialah hamzah, Mim, Lam, ‘Ain, Thaa, Ahaf, Ya, Nun.
d.    Golongan huruf-huruf syafahi ( suaranya di bibir) ialah Mim
e.    Golongan huruf qalqalah (suaranya bergerak apabila dimatikan) ialah qaf dan tha.
Untuk lebih jelasnya dari apa yang telah dikemukakan diatas, kita akan melihat pendapat atu penafsiran para mufassir tentang fawatih as-suwari diantaranya adalah: :
1.    Mufassir orientalis
Pendapat yang paling jauh menyimpang dari kebenaran adalah dari seorang orientalis yang bernama nodeke, yang kemudian dikoreksi, bahawa awalan surah itu tidak lain adalah huruf depan dan huruf belakang dari nama-nama para sahabat nabi. Misalnya, huruf siin ( س (  dari nama Sa’ad bin abi waqash, mim ( م ) adalah huruf depan dari nama Al mughirah, huruf nun (ن) huruf akhir dari nama Usman Bin Affan, dan lain-lain.
2.    Al-khuwaibi
Al-khuwaibi mengatakan bahwa kalimat-kalimat ituj merupakan tanbih bagi nabi. Mungkin ada suatu waktu nabi berada dalam keadaan sibuk dan sebagainya.
3.    Rasyid Ridha
Ungkapan rasyid ridha sedikit berbeda dengan apa yang di kemukakan oleh al-khuwaibi. Rasyid ridha berpendapat bahwa tanbih yang dimaksud diatas adalah dihadapkan kepada orang-orang musyrik di mekkah , kemudian kepada ahli kitab di madinah.[6]
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
  1. Qiraat adalah perbedaan cara mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an baik menyangkut hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf.
2.       Qiraat memiliki bermacam-macam, yakni qiraat sab’ah, qiraat asyrah dan qiraat arbaah asyrah.
3.       Fawatih As Suwari adalah kalimat-kalimat yang dipakai untuk pembukaan surah.
4.      Fawatih merupakan bagian dari ayat mutasyabihat karena ia bersifat mujmal, mu’awwal dan musykil.



B.DAFTAR PUSTAKA

Ø  Al- Qaththan, Manna. Mabahits Fi Ulum Al-Quran
Ø  Anwar, abu . 2002. Ulumul Quran. Pekanbaru: Amzah
Ø  Hamid, Shalahuddin . 2002. Study Ulumul Quran . Jakarta selatan: PT. Intimedia Ciptanusantara





[1] Drs.H.M.Shalahuddin Hamid, Study ulumul Quran (PT. Intimedia Ciptanusantara,2002) hlm.244
[2] القتان، المبحث في علوم القران،الصفحة 242. منع
[3] Drs.H.M.Shalahuddin Hamid, Study ulumul Quran (PT. Intimedia Ciptanusantara,2002) hlm.245-250
[4] http://pintania.wordpress.com/qiraatul-quran/
[5] http://ridwan202.wordpress.com/istilah-agama/qiraatul-quran/
[6] Abu Anwar,2002, Uumul Quran,Amzah, (pekanbaru), hlm 88-95v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar