1. Mengapa pentingnya Asbabul Nuzul
2. Apa berbedaan Naskh dan Mansukh
3. Berikan contoh ayat Naskh dan Mansukh
4. Bagaimana memahami Al-Qur'an dalam tujuh huruf
5. Al-qur'an makhluk apa bukan sih?
6. Apa yang dimaksudkan dengan Amsalul Qur'an berikan contohnya
7. Bagaimana pemeliharaan Al-Qur'an
8. Sebutkan ciri-ciri khas makki dan madani
9. Apa pengertian Amsal dan Mursalah
10. Apa dasar Zaid Bin Sabir pembekuan Al-Qur'an
11. Apa pengertian dari arsyid tawa'
12. Ayat apa yang bertentangan dengan fabi'ala hirabikuma tukasiba
13. Apa pengertian dari fatih aswad dan uraikan?
14. Tuliskan ayat yang menyatakan Al-qur'an secara bertahap
15. Apa pengertian makki dan madani dan berikan ayat tersebut
16. Bagaimana orang syiah mempelajari Mutasyabih
17. Apa keuntugan hikmah Al-Qur'an turun bertahap
18. Sebutkan Mantuq dan Mafhum
19. Apa Pengertian Amm dan Khass
20. Kenapa Usman Bin Affan membukukan Al-qur'an secara resmi
Jawaban tolong di post dikomentar.
syukran.
KUMPULAN ILMU - ILMU ISLAMI
Sabtu, 25 Januari 2014
Jumat, 11 Oktober 2013
MAKALAH ULUMUL QURAN
Makalah ulumul quran
QIRAATUL
QURAN WA FAWATIHUL AS SUWARI
DI
S
U
S
U
N
OLEH :
Kelompok 9
|
KALKAUSAR
|
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI AR-RANIRY
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN
PBA, UNIT 4
DARUSSALAM
2013
M/1433 H
Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin,segala puji
dan syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“Qiraatul Quran wa Fawatihul As Suwari”.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Ulumul Quran. Adapun isi
dari makalah yaitu menjelaskan tentang Qiraatul Quran dan Fawatihul
As Suwari.
Kami berterima kasih kepada Ustad
Rahmadon selaku dosen mata kuliah Ulumul Quran
yang telah memberikan arahan serta bimbingan, dan juga kepada semua pihak
yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan makalah
ini.Seperti pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak”. kami menyadari
makalah ini masih jauh dari sempurna. Hal ini semata-mata karena keterbatasan
kemampuan kami sendiri. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang positif dan membangun dari semua pihak agar makalah ini menjadi
lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.
Penyusun
Banda Aceh,11
Okt. 13
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I BAB PENDAHULUAN
A.Latar Belakang........................................................................................................................4
B.Rumusan Masalah...................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
I.Qiraatul Quran.........................................................................................................................5
A. pengertian Qiraatul Quran.....................................................................................................5
B. latar belakang timbulnya perbedaan qiraat............................................................................5
C. macam-macam qiraat quran...................................................................................................6
a. qiraah sab’ah.....................................................................................................6
b. qiraah syazzat...................................................................................................8
c. qiraah asyrah.....................................................................................................9
d. qiraah arba’ah asyrah........................................................................................9
D. kegunaan mempelajari Qiraat................................................................................................9
II.Fawatih As Suwari................................................................................................................10
A.pengertian.............................................................................................................................10
B.macam-macam bentuk fawatih as suwar..............................................................................11
C. pendapat ulama tentang fawatih as suwar...........................................................................12
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan...........................................................................................................................14
B.Daftar pustaka.......................................................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bangsa Arab merupakan komunitas terbesar dengan berbagai
suku didalamnya, Setiap suku memiliki lahjah yang khusus dan berbeda
dengan suku-suku lainnya. Di sini, perbedaan-perbedaan al-Qur’an ‘ala sab’ah
ahruf dan hadis-hadis lainnya yang sepadan dengannya lahjah itu
membawa konsekuensi lahirnya bermacam-macam bacaan (qira’ah) dalam melafalkan
al-Qur’an. Lahirnya bermacam-macam qira’ah itu sendiri, tidak dapat dihindarkan
lagi. Oleh karena itu, Rasulullah SAW sendiri membenarkan pelafalan al-Qur’an
dengan berbagai macam qira’ah.
Begitu juga
dengan Fawatih As suwari,dia sendiri memiliki makna pembukaan surat karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks
pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung
‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan.
Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada
huruf hijaiyah.
B. Rumusan Masalah
Sebagaimana yang tertera pada latar belakang diatas, maka
kami ingin membahas sedikit tentang :
a.
Apa pengertian
Qira’atul Quran dan fawatih As Suwari ?
b.
Bagaimana
pendapat ulama tentang Qiraatul Quran dan fawatih As Suwari ?
c.
Apa saja
pembagian Qiraatul Quran ?
BAB II
PEMBAHASAN
QIRA’AT AL-QUR’AN
A. Pengertian Qira’at
al-Qur’an
Secara bahasa, lafal qira’at ( قراءة ) merupakan bentuk masdar dari ( قرأ ) yang artinya bacaan. Sedangkan menurut istilah, terdapat berbagai pendapat para ulama yang sehubungan dengan pengertian qira’at ini
Secara bahasa, lafal qira’at ( قراءة ) merupakan bentuk masdar dari ( قرأ ) yang artinya bacaan. Sedangkan menurut istilah, terdapat berbagai pendapat para ulama yang sehubungan dengan pengertian qira’at ini
Dr.Subhi
sholeh mendefinisikan Qiraat : “ yaitu ilmu yang membahas tentang tata cara
pengucapan kalimat-kalimat al-quran berikut cara pelaksaannya, baik yang
disepakati maupun yang terjadi perbedaan, dengan menghubungkan setiap
pandangannya menurut versi orang yang memindahkannya”[1]
B.Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at
Mengenai hal ini, terjadi perbedaan pula dari para ulama
tentang apa sebenarnya yang menyebabkan perbedaan tersebut. Berikut pendapat
para ulama:
1.
Sebagaimana ulama
berpendapat bahwa perbedaan Qira’at al-Qur’an disebabkan karena perbedaan
qira’at Nabi SAW, artinya dalam menyampaikan dan mengajarkan al-Qur’an, beliau
membacakannya dalam berbagai versi qira’at. Contoh: Nabi pernah membaca ayat 76
surat ar-Rahman dengan qira’at yang berbeda. Ayat tersebut berbunyi:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَ عَبْقَرِيٍّ حِسَاٍن
Lafadz ( رَفْرَفٍ ) juga pernah dibaca Nabi dengan lafadz ( رَفَارَفٍ ), demikian pula dengan lafadz ( عَبْقَرِيٍّ ) pernah dibaca ( عَبَاقَرِيٍّ ), sehingga menjadi:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفَارَفٍ خُضْرٍ وَعَبَاقَرِيٍّ حِسَانٍ
2. Pendapat lain mengatakan: Perbedaan pendapat disebabkan adanya taqrir Nabi terhadap berbagai qira’at yang berlaku dikalangan kaum muslimin pada saat itu. Sebagai contoh: ( حَتَّى حِيْنَ ) dibaca ( حَتَّى عِيْنَ ), atau ( تَعْلَمْ ) dibaca ( تِعْلَمْ ).
3. Suatu pendapat mengatakan, perbedaan qira’at disebabkan karena perbedaannya qira’at yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi melalui perantaraan Malaikat jibril.
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَ عَبْقَرِيٍّ حِسَاٍن
Lafadz ( رَفْرَفٍ ) juga pernah dibaca Nabi dengan lafadz ( رَفَارَفٍ ), demikian pula dengan lafadz ( عَبْقَرِيٍّ ) pernah dibaca ( عَبَاقَرِيٍّ ), sehingga menjadi:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفَارَفٍ خُضْرٍ وَعَبَاقَرِيٍّ حِسَانٍ
2. Pendapat lain mengatakan: Perbedaan pendapat disebabkan adanya taqrir Nabi terhadap berbagai qira’at yang berlaku dikalangan kaum muslimin pada saat itu. Sebagai contoh: ( حَتَّى حِيْنَ ) dibaca ( حَتَّى عِيْنَ ), atau ( تَعْلَمْ ) dibaca ( تِعْلَمْ ).
3. Suatu pendapat mengatakan, perbedaan qira’at disebabkan karena perbedaannya qira’at yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi melalui perantaraan Malaikat jibril.
C.Macam-macam Qira’at
Yang dimaksud dengan macam-macam qira’at disini yaitu ragam qira’at yang dapat diterima sebagai qira’at al-Qur’an. Dan hal ini banyak menyangkut qira’at sab’ah dan qira’at syazzat.
Yang dimaksud dengan macam-macam qira’at disini yaitu ragam qira’at yang dapat diterima sebagai qira’at al-Qur’an. Dan hal ini banyak menyangkut qira’at sab’ah dan qira’at syazzat.
a. Qiraah Sab’ah
Orang
arab memiliki beberapa suku, disetiap suku memiliki bahasa atau lahjah
masing-masing, mereka berbeda pada pengucapan huruf dan bahasa merekapun
berbeda antara satu dengan yang lain nya sehingga muncullah perbedaan dalam
pembacaan al-quran atau lebih dikenal dengan qiraah saba’ah.
Ada beberap hadist
mutawatir yang membahas tentang diturunkanya al-qur’an dalam tujuh huruf atau
tujuh bacaan. Diantaranya:
عن ابن عباس رضي الله عنهما انه قل " قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أقرأني جبريل على حرف فراجعته ، فلم أزل أستزيده ويزيدني حتى انتهى إلى سبعه أحرف" أخرجه البخاري ومسلم وغيرهما
Artinya: “ Dari ibnu Abbas ra
berkata “ Rasulullah SAW Bersabda: Aku telah dibacakan(quran) oleh jibril dalam
satu huruf kemudian aku mengulangnya,tetapi ia masih menmbahkannya hingga
sampai tujuh huruf ” HR Bukhari, Muslim dan selain mereka berdua.
عن ابي بن كعب " أن النبى صلى الله عليه
وسلم كان عند اضاه بنى غفار قال : فأته
جبريل فقل : إن الله يأ مرك أن تقرىء أمتك القران على حرف ، فقال: أسأل الله
معافته ومغرفته وأن أمتي لا تطيق ذلك ، ثم
اتاه الثانية فقال : إنالله يأمرك أن تقرأ أمتك القران على حرفين ، فقال : أسأل
الله معافته ومغرفرته وأن أمتي لا تطيق ذلك ، ثم جاء الثالثة، فقال : إن الله يأمرك أن تقرأ أمتك القران على الثالثة
أحرف، فقال : أسأل الله معافته ومغرفته
وأن أمتي لا تطيق ذلك ، ثم جاء الرابعة فقال : إنالله يأمرك أن تقرأ أمتك
القران على سبعة أحرف، فأيما حرف قرأوا عليه فقد أصابوا. (روه مسلم)
Artinya “ Dari ubay bin ka’ab
: sesunggungnya rasulullah SAW meninggalkan bani Ghiffar, berkata : jibril
mendatanginya ( muhammad) maka berkata : sesungguhnya allah memrintahkanmu
untuk membaca kpd ummatmu Quran dalam 1 huruf . maka nabi menjawab : aku
memohon kemaafan,dan pengampunan allah, dan sesungguhnya umatku tidak sanggup
yang demikian itu. Kemudian jibril datang kali kedua dan berkata : sesungguhnya
allah memerintahkan kamu untuk membacakan kepada umatmu al-quran dalam dua
huruf, Rasul menjawab: aku memohon kemaafan,dan pengampunan allah, dan
sesungguhnya umatku tidak sanggup yang demikian itu, dan jibril datang kali
yang ketiga dan berkata sesungguhnya allah memerintahkanmu untuk membacakan
untuk umatmu Quran dalam tiga huruf, kemudian nabi menjawab : aku memohon
kemaafan,dan pengampunan allah, dan sesungguhnya umatku tidak sanggup yang demikian
itu, kemudian jibril datang lagi kali yang ke empat dan berkata sesungguhnya
allah memerintahkanmu untuk membacakan kepada umatmu Quran dalam tujuh huruf,
maka huruf apa saja yang di bacakan maka meareka benar. ( HR.Muslim )[2]
Para ulama berbeda pendapat
pada penafsiran tujuh huruf yang terdapat dalam hadist di atas diantaranya :
1.
Kebanyakn
para ulama berpendapat yang dimaksud
dengan tujuh huruf ialah tujuh bahasa dalam satu arti meski bahasa arab berbeda
dalam pengungkapan suatu kata, al-quran diturunkan dengan bahasa yang mereka
mampu (mengucapkannya) dengan arti yang sama, terapi tidak ada perbedaan apakah
terdiri dari satu atau dua . mereka juga berbeda pendapat pada penentuan tujuh
bahasa tersebut ada yang menyatakan : bahasa Quraisy, Hudzail, tsaqief,
hawazen, kinanah, Tamim dan yaman. Abu hatim as sadistan berkata diturunkan
dengan bahasa Quraisy Hudzail, Tamim, Azd, Rabiah, Hawazen, Dan Saad Bin Bakr.
2.
Sebagian lain
menyatakan bahwa maksud dari tujuh huruf itu adalah tujuh maksud : seperti
perintah, larangan, janji, ancaman, perdebatan, kisah dan perumpamaan atau
berupa : Amar dan Nahie, Halal dan Haram, Muhkam dan Mutasyabih, dan
perumpamaan. Dari ibnu mas’ud ra berkata : dari nabi saw bersabda: pertama
kitab itu di turunkan dari satu pintu dan dari satu huruf,sementara al-quran
dari tujuh pintu dengan tujuh huruf :larangan, perintah, halal, haram,
muhakkam, mutasyabih dan perumpamaan (HR. Hakim dan Baihaqi)
3.
Beberapa
orang menyatakan bahwa tujuh bilangan itu tidak dapat di pahami ( la mafhuma
lah). Akan tetapi itu adalah rumus yang dipakai orang arab dalam arti
kesempurnaan firman allah. Ini sebagai isyarat bahwa dalam al-quran dalam
bahasa maupun susunannya merupakan batas dan bab-bab dalam perkataan arab
secara keseluruhan persamaan dengan tingkat kesempurnaan balghahnya, maka lafaz
sab’ah dimaksudkan untuk menyatakan keinginan yang menyeluruh dan sempurna dalam
satu kata, seperti dinyatakan tujuh pulu dalam puluhan dan tujuh ratus dalam
ratusan dan tidak dimaksudkan pada satu arti.[3]
b.
Qira’at Syazzat
Yaitu qira’at yang sanadnya shahih, sesuai dengan kaidah Bahasa Arab, akan tetapi menyalahi rasm Ustmani. Dengan demikian qira’at ini dapat diterima eksistensinya, akan tetapi para ulama sepakat tidak mengakui kegunaannya, dengan kata lain qira’at ini dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap qira’at yang terkenal diakui kegunaannya.
Yaitu qira’at yang sanadnya shahih, sesuai dengan kaidah Bahasa Arab, akan tetapi menyalahi rasm Ustmani. Dengan demikian qira’at ini dapat diterima eksistensinya, akan tetapi para ulama sepakat tidak mengakui kegunaannya, dengan kata lain qira’at ini dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap qira’at yang terkenal diakui kegunaannya.
Beberapa contoh qira’at syazzat:
• Qira’at Aisyah dan Hafsah
• Qira’at Ibn Mas’ud
• Qira’at Ubay Ibn Ka’ab
• Qira’at Sa’ad Ibn Abi Waqash
• Qira’at Ibn Abbas
• Qira’at Jabir
c.
Qiraat Asyrah (qiraat sepuluh)
Yang
dimaksud qiraat sepuluh adalah qiraat tujuh yang telah disebutkan
di atas ditambah tiga qiraat sebagai berikut : Abu Ja’far. Nama
lengkapnya Yazid bin al-Qa’qa al-Makhzumi al-Madani. Ya’qub (117 – 205 H)
lengkapnya Ya’qub bin Ishaq bin Yazid bin Abdullah bin Abu Ishaq al-Hadrani,
Khallaf bin Hisyam (w. 229 H)
d.
Qiraat Arba’at Asyarh (qiraat empat belas)
Yang dimaksud qiraat empat belas adalah qiraat sepuluh
sebagaimana yang telah disebutkan di atas ditambah dengan empat qiraat
lagi, yakni : al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), Muhammad bin Abdurrahman (w. 23
H), Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi and-Nahwi al-Baghdadi (w. 202 H), Abu
al-Fajr Muhammad bin Ahmad asy-Syambudz (w. 388 H).[4]
D.Kegunaan Mempelajari Qira’at
Dengan bervariasinya qira’at, maka banyak sekali manfaat atau faedahnya, diantaranya:
1. Menunjukkan betapa terpelihara dan terjaganya kitab Allah dari perubahan dan penyimpangan.
2. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca al-Qur’an
3. Bukti kemukjizatan al-Qur’an dari segi kepadatan makna, karena setiap qira’at menunjukkan sesuatu hukum syara tertentu tanpa perlu pengulangan lafadz.
4. Penjelasan terhadap apa yang mungkin masih global dalam qira’at lain.
5. Memperbesar pahala[5]
Dengan bervariasinya qira’at, maka banyak sekali manfaat atau faedahnya, diantaranya:
1. Menunjukkan betapa terpelihara dan terjaganya kitab Allah dari perubahan dan penyimpangan.
2. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca al-Qur’an
3. Bukti kemukjizatan al-Qur’an dari segi kepadatan makna, karena setiap qira’at menunjukkan sesuatu hukum syara tertentu tanpa perlu pengulangan lafadz.
4. Penjelasan terhadap apa yang mungkin masih global dalam qira’at lain.
5. Memperbesar pahala[5]
II.FAWATIH AS-SUWARI
A.
PENGERTIAN
Al quranul karim merupakan kitab suci yang keautentikannya di jamin oleh allah, dan
ia merupkan kitab yag senantiasa di pelihara hingga hari kiamat.hal itu
ditegaskan oleh allah dalam surah 15;9
“sesungguhnya kami
yg menurunkan al-quran, dan kamilah yg memeliharanya”
Demikianlah allah
menjamin keauntentikannya al-quran , jamimanan nya yg di berikan atas dasar
kemahakuasaan dan kemahatauhuan-Nya, serta berkat upaya upaya dilakukan oleh
makhluk makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat diatas, setiap
muslim percaya bahwa apa yg dibaca dan didengarny a sebagai al-quran tidak
berbeda sedikit pun apa yang pernah di baca oleh rasulullah saw, dan yang di
dengar serta di baca oleh para sahabat.
Apabila kita membaca
alquran yg diturunkan kepada manusia secara global,akan kita dapati bahwa
ayat-ayat alquran itu bersifat muhkam
dan ada juga mutasyabihat. boleh kita
mengatakan bahwa semua ayat al-quran adalah muhkam,dan kita pun dapat
mengatakan bahwa semua ayat al-quran mutasyabihat. Hal ini berlandaskan kepada
surah Hud ayat 1 (untuk muhkam) dan pada surah Az Zumar ayat 23 (untuk
mutasyabihat).
Fawatih asuwari
adalah kalimat yg dipakai untuk pembukaan surah , merupakan bagian dari ayat
mutasyabihat. karna ia bersifat mujmal, mu’awal dan musykil. Di dalam al-quran
terdapat huruf huruf awalan dalam pembukaan surah dalam bntuk yang berbeada
beda. Hal ini merupakan salah satu ciri kebesaran allah dan kemahtuhaan-Nya ,
sehingga kita terpanggil untuk mengalih ayat2 tersebut.
B.
Macam2 bentuk
fawatih as-swari
Ada lima bntk awalan
yg dapt dilhat dalm al-quran yaitu
1. Awalan surah yg
terdiri dari satu hruf, ini terdapat pada 3 surah
A. Surah shad ( QS. 38)
B. Surah Qaaf (Qs. 50)
C. Surah al-Qalam
(QS.68)
2. Awalan surah yg
terdiri dari 2 huruf, ini terdapat pada 10 surah
a. Surah al mukmin 40.
b. Surah Asy Syura (QS.
42)
c. Surah Az Zukhruf
(QS. 43)
d. Surah Ad Dukhan (QS.
44)
e. Surah Al Jatsiyah
(QS. 45)
f. Surah Al Ahqaf (QS.
46)
g. Surah Taha (QS. 20)
h. Surah An Naml (QS.
27)
i.
Surah Yasiin (QS. 36)
Tujuh dari surah 10 surah diatas dinamakan hawwamim
3. Awalan surah yg
terdiri dari 3 huruf , ini terdapt pada 13 surah :
Enam surah di awali
alif lam mim.
a. Surah Al Baqarah
(QS. 2)
b. Surah Ali Imran (QS.
3)
c. Surah Al ‘Ankabut
(QS 29)
d. Surah Ar Rum (QS.
30)
e. Surah Luqman
(QS. 31)
f. Surah As Sajadah
(QS. 32)
Lima surah di awali dg alif lam ra
a. Surah Yunus (QS.10)
b. Surah Hud (QS. 11)
c. Surah Yusuf (QS. 12)
d. Surah Ibrahim (QS.
14)
e. Surah Al Hijr
(QS.15)
Dua surah ayg diawali dengan thna sin mim
a. Surah Asysyu’ara
(QS. 26)
b. Surah Al Qashah (QS.
28)
4. Awalan surah yg
terdiri dari 4 huruf, ini terdapat pd 2 t4 yaitu
a. Surah Al A’raf (QS.
7)
b. Surah Ar Ra’d (QS.
13)
5. Awalan surah yg
terdira dari 5 huruf , ini hanya trdapat pd surah maryam (QS.19)
C. pendapat Ulama Tentang Fawatih
Dari keterangan di atas terlihat bahwa fawatih
As Swari ( pembuka pembuka surah) ada 29 macam yang terdiri 13 bentuk. Adapun
huruf yang paling banyak diigunakan secara berurutan ialah : Alif, Lam, Mim, Ha
( di ringankan ) Ra, Sin, Tha, Shad, Ha (di beratkan). Ya, Sin, Qaf, Nun. Huruf
awalan yang tidak disebut semuanya berjumlah 14 itu berarti separuh jumlah
huruf hijaiyah (alfabet)
Alfatih As suwari ini menjadi bukti kepada
bangsa arab bahwa al-quran diturunkan dengan di pergunakan huruf huruf yang
mereka kenal. Ini merupakan teguran keras bagi mereka dan sekaligus membuktikan
ketidak mampuan mereka membuat semisal al-quran.
Kajian tentang fawatih asuwari telah di
kembangkan oleh para ahli tafsir terdahulu semisal Zamakhsyari. Kemudian
diikuti Baidhawi. Begitu juga Ibnu taimiyyah dan muridnya yang bernama
Al-Hafidz Al-mizi.
Mengklasifikasikan huruf huruf yang terdapat dalam fawatih as-suwari maka
kita akan dapati :
a. Golongan huruf – huruf ‘alaq (yang suaranya
yang keluar dari tenggorokan)
b. Golongan huruf huruf
mahmusah ( yang suaranya seperti bisikan)
c. Golongan huru -
huruf mahjurah ( yang suaranya di keraskan
) ialah hamzah, Mim, Lam, ‘Ain, Thaa, Ahaf, Ya, Nun.
d. Golongan huruf-huruf
syafahi ( suaranya di bibir) ialah Mim
e. Golongan huruf
qalqalah (suaranya bergerak apabila dimatikan) ialah qaf dan tha.
Untuk lebih jelasnya
dari apa yang telah dikemukakan diatas, kita akan melihat pendapat atu
penafsiran para mufassir tentang fawatih as-suwari diantaranya adalah: :
1. Mufassir orientalis
Pendapat yang paling
jauh menyimpang dari kebenaran adalah dari seorang orientalis yang bernama
nodeke, yang kemudian dikoreksi, bahawa awalan surah itu tidak lain adalah
huruf depan dan huruf belakang dari nama-nama para sahabat nabi. Misalnya,
huruf siin ( س ( dari nama Sa’ad bin abi waqash, mim ( م ) adalah huruf depan dari nama Al
mughirah, huruf nun (ن) huruf akhir dari
nama Usman Bin Affan, dan lain-lain.
2. Al-khuwaibi
Al-khuwaibi mengatakan bahwa kalimat-kalimat
ituj merupakan tanbih bagi nabi. Mungkin ada suatu waktu nabi berada dalam
keadaan sibuk dan sebagainya.
3. Rasyid Ridha
Ungkapan rasyid
ridha sedikit berbeda dengan apa yang di kemukakan oleh al-khuwaibi. Rasyid
ridha berpendapat bahwa tanbih yang dimaksud diatas adalah dihadapkan kepada
orang-orang musyrik di mekkah , kemudian kepada ahli kitab di madinah.[6]
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut.
- Qiraat
adalah perbedaan cara mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an baik menyangkut
hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf.
2.
Qiraat memiliki bermacam-macam, yakni qiraat sab’ah,
qiraat asyrah dan qiraat arbaah asyrah.
3.
Fawatih As Suwari adalah kalimat-kalimat yang dipakai
untuk pembukaan surah.
4.
Fawatih merupakan bagian dari ayat mutasyabihat karena ia
bersifat mujmal, mu’awwal dan musykil.
B.DAFTAR PUSTAKA
Ø
Al- Qaththan,
Manna. Mabahits Fi Ulum Al-Quran
Ø
Anwar, abu .
2002. Ulumul Quran. Pekanbaru: Amzah
Ø
Hamid,
Shalahuddin . 2002. Study Ulumul Quran . Jakarta selatan: PT. Intimedia
Ciptanusantara
Langganan:
Postingan (Atom)